Minggu, 29 Mei 2011

makalah perkembangan ekonomi

Tugas : Individu
Makalah : Pengantar Ekonomi Wilayah dan Kota

BAYU ALFIAN
60800110019

TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Perkembangan Ekonomi di Kabupaten Bone”.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :
1. Bapak pembimbing mata kuliah pengantar Ekonomi Wilayah dan Kota
2. Rekan-rekan semua di jurusan Teknik PWK UIN Alauddin
3. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis, baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan makalah ini
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin
Sungguminasa 25 April 2011

Penulis

DAFTAR ISI
Sampul 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
BAB I PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 5
BAB II PEMBAHASAN 6
BAB III PENUTUP 12
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap daerah di Indonesia sudah lama menjadikan perkembangan ekonomi sebagai target ekonomi. Perkembangan ekonomi selalu menjadi factor yang paling penting dalam keberhasilan perekonomian suatu daerah untuk jangka panjang. Perkembangan ekonomi sangat dibutuhkan dan dianggap sebagai sumber peningkatan standard hidup (standard of living) penduduk yang jumlahnya terus meningkat.
Istilah perkembangan ekonomi sering dicampurbaurkan dengan pertumbuhan ekonomi, dan pemakaiannnya selalu berganti-ganti, sehingga kelihatan pengertian antara keduanya dianggap sama. Akan tetapi beberapa ahli ekonomi, seperti Schumpeter (1911) dan Ursula Hicks (1957) telah menarik perbedaan yang lazim antara istilah perkembangan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi (jhingan, 1993). Menurut kedua pakar tersebut perkembangan ekonomi mengacu kepada masalah-masalah Negara terbelakang, sedangkan pertumbuhan ekonomi mengacu kepada masalah-masalah Negara maju. Demikian juga menurut Maddison (1970), ia mengatakan bahwa di Negara-negara maju kenaikan dalam tingkat pendapatan biasanya disebut pertumbuhan ekonomi, sedang di Negara miskin ia disebut perkembangan ekonomi. Namun ada juga pakar ekonomi lainnya yang beranggapan bahwa antara pertumbuhan ekonomi dengan perkembangan ekonomi merupakan sinonim, misalnya pendapat dari Arthur Lewis (1954), serta Meir dan Baldwin (1973)
Selama hampir setengah abad, perhatian utama masyarakat perekonomian dunia tertuju pada cara-cara untuk mempercepat tingkat perkembangan pendapatan nasional. Para ekonom dan politisi dari semua daerah, baik daerah-daerah maju maupun terbelakang, yang menganut sistem kapitalis, sosialis maupun campuran, semuanya sangat mendambakan dan menomorsatukan perkembangan ekonomi (economic growth). Pada setiap akhir tahun, masing-masing daerah selalu mengumpulkan data-data statistiknya yang berkenaan dengan tingkat perkembangan GNP relatifnya, dan dengan penuh harap mereka menantikan munculnya angka-angka pertumbuhan yang membesarkan hati. “Pengejaran pertumbuhan” merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua daerah di Indonesia dewasa ini. Seperti kita telah ketahui, berhasil-tidaknya program-program pembangunan di daerah-daerah sering dinilai berdasarkan tinggi-rendahnya tingkat perkembangan output dan pendapatan nasional.
Mengingat konsep perkembangan ekonomi sebagai tolok ukur penilaian perkembangan ekonomi nasional sudah terlanjur diyakini serta diterapkan secara luas, maka kita tidak boleh ketinggalan dan mau tidak mau juga harus berusaha mempelajari hakekat dan sumber-sumber perkembangan ekonomi tersebut. Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi memiliki definisi yang berbeda, yaitu pertumbuhan ekonomi ialah proses kenaikan output per kapita yang terus menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Dengan demikian makin tingginya pertumbuhan ekonomi biasanya makin tinggi pula kesejahteraan masyarakat, meskipun terdapat indikator yang lain yaitu distribusi pendapatan. Sedangkan pembangunan ekonomi ialah usaha meningkatkan pendapatan per kapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan ketrampilan, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen.
B. Rumusan Masalah
1. Masalah perkembangan ekonomi yang dihadapi kabupaten Bone
2. Perkembangan Ekonomi Kabupaten Bone
3. Sektor Ekonomi Kabuparten Bone

BAB II
PEMBAHASAN
1. Masalah Perkembangan Ekonomi yang di Hadapi Kabupaten Bone
Permasalahan ekonomi saat ini adalah masih terbatasnya akselerasi sektor riil dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan fasilitasi, mediasi, dan regulasi bisnis yang dapat memberdayakan ekonomi masyarakat serta membuka akses bagi peningkatan dan pemupukan modal utamanya ditingkat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), guna memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi dan menopang pertumbuhan pasar domistik, pengembangan bisnis dan sektor riil yang berkelanjutan yang pada akhirnya mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan tentunya bermuara pada peningkatan kualitas hidup atau kesejahteraan masyarakat.
Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan upaya-upaya strategi diantaranya melakukan penciptaan bisnis melalui proses fasilitas, mediasi dan regulasi pembinaan kepada pelaku usaha produktif di suatu wilayah ataupun di sektor tertentu yang selama ini berpotensi namun belum dikembangkan secara baik. Proses fasilitasi pembinaan tersebut diberikan seiring dengan penyaluran kredit UMKM produktif, dalam bentuk modal kerja atau investasi. Pembinaan kepada para pelaku usaha produktif tidak dapat terlepas dari fungsi dan peran pemerintah utamanya pemerintah kabupaten dan kota, sehingga diperlukan suatu sinergi melalui suatu kerjasama dan koordinasi dalam pengembangan sector riil dan pemberdayaan UMKM.
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Badan Musyawarah Perbankan Daerah Sulsel memandang perlu mendorong percepatan sektor riil di Sulawesi Selatan melalui pelaksanaan ekspo perbankan. Kegiatan ekspo bank telah dicanangkan oleh Bapak Wakil Presiden RI pada tanggal 9 Agustus 2008 di Kabupaten Barru, dan dilanjutkan pelaksanaannya diseluruh kabupaten/kota termasuk di Kabupaten Bone.

2. Perkembangan Ekonomi Kabupaten Bone
Nilai PDRB tahun 2008 atas dasar harga berlaku adalah Rp. 5.348.744,99 juta jika dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp. 4,423,743,58 juta, terjadi peningkatan sebesar 17,29%.
Rata- rata perkembangan ekonomi Kabupaten Bone tahun (2005-2008) 14,43%/tahun. Nilai PDRB tahun 2008 atas dasar harga berlaku adalah Rp. 5.348.744,99 Juta jika dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp. 4.423.743,58 Juta terjadi peningkatan sebesar 17,29%. Perkembangan perekonomian dipengaruhi oleh kenaikan harga secara umun dengan kata lain dampak inflasi mempengaruhi perkembangan ekonomi namun pengaruhnya di Kabupaten Bone tidak begitu besar dan tidak mengganggu laju perekonomian secara umum.
Perkembangan Ekonomi mengalami peningkatan setiap tahunnya, perkembangan yang cukup signifikan dari tahun 2005 hingga tahun 2008 yaitu 11,72% pada tahun 2005, 16,02% pada tahun 2006, 12,72% pada tahun 2007 dan 17,29% pada tahun 2008.
Kondisi perekonomian Kabupaten Bone terlihat dari gambaran PDRB (Harga Konstan) Tahun 2005 sebesar Rp. 2.305.158.940.000,- menjadi Rp. 2.442.413.220.000,- pada Tahun 2006 atau terjadi pertumbuhan sebesar 5,95%. Walaupun pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone agak lamban dibanding Propinsi Sulawesi Selatan yakni 6,72%, akan tetapi pertumbuhan tersebut memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan perkapita selama kurun waktu yang sama, yaitu dari Rp. 4.792.832,- pada tahun 2005 menjadi Rp. 5.541.502,2.- pada tahun 2006
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone tersebut, disamping memberikan implikasi positif terhadap pembukaan lapangan kerja, juga masih menyisahkan pengangguran. Dalam Tahun 2004, jumlah angkatan kerja sebanyak 258.926 orang dan yang mampu diserap berjumlah 249.121 orang. Demikian halnya pada Tahun 2005, angkatan kerja tersedia sejumlah 291.633 orang yang terserap sekitar 274.758 orang, sehingga pada tahun yang sama masih terdapat pengangguran sekitar 16.875 orang
Kondisi perekonomian Kabupaten Bone terlihat dari gambaran PDRB (Harga Konstan) Tahun 2005 sebesar Rp. 2.305.158.940.000,- menjadi Rp. 2.442.413.220.000,- pada Tahun 2006 atau terjadi pertumbuhan sebesar 5,95%. Walaupun pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone agak lamban dibanding Propinsi Sulawesi Selatan yakni 6,72%, akan tetapi pertumbuhan tersebut memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan perkapita selama kurun waktu yang sama, yaitu dari Rp. 4.792.832,- pada tahun 2005 menjadi Rp. 5.541.502,2.- pada tahun 2006
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone tersebut, disamping memberikan implikasi positif terhadap pembukaan lapangan kerja, juga masih menyisahkan pengangguran. Dalam Tahun 2004, jumlah angkatan kerja sebanyak 258.926 orang dan yang mampu diserap berjumlah 249.121 orang. Demikian halnya pada Tahun 2005, angkatan kerja tersedia sejumlah 291.633 orang yang terserap sekitar 274.758 orang, sehingga pada tahun yang sama masih terdapat pengangguran sekitar 16.875 orang.
3. Sektor Ekonomi Kabupaten Bone
a. Pertanian
Bila dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB, bidang pertanian menyumbang sebesar 56,17 % , hingga saat ini pertanian memang masih paling besar andilnya terhadap pendapatan daerah.
Data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa luas panen tanaman pangan dan hortikultura tetap didominasi oleh padi, pada tahun 2007 seluas 117.787 ha dengan produksi sebesar 697.299 Ton, sedangkan yang lainnya antara lain jagung 38.872 ha dengan produksi sebesar 149.657 ton, kedelai 4.484 ha dengan produksi mencapai 8.026 ton , ubi kayu 663 ha produksinya 7.704 ton,ubi jalar 321 ha dengan produksi 2.716 ton, kacang tanah 12.846 ha dengan produksi 24.022 ton.
Produktivitas perkomoditasnya masih belum mencapai hasil yang optimal, oleh sebab itu,masih perlu didukung adanya pembinaan dan penyuluhan di tingkat petani serta usaha perkuatan kelembagaan dalam menghasilkan benih bermutu, institusi pengendali hama/penyakit, dukungan alat mesin pertanian dan distribusi pupuk memadai.
b. Peternakan
Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian, yang peranannya dalam penyediaan pangan khususnya protein hewani terus ditingkatkan untuk mewujudkan swasembada ternak dan peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam kurun waktu 2002 -2005 populasi ternak mengalami peningkatan yang cukup besar terutama Sapi Bali, kemudian kambing, kuda dan kerbau. Sedangkan yang mengalami penurunan populasi adalah ayam terutama ayam ras petelur. Hal ini disebabkan karena menurunnya minat masyarakat untuk beternak ayam karena wabah flu burung.
Untuk mendukung kesehatan produk peternakan terutama agar kesehatan masyarakat menjadi semakin baik sehingga penyediaan produk aman, sehat, utuh dan halal maka didukung adanya fasilitas lokasi pemotongan berupa Rumah Potong Hewan (RPH), pembinaan terhadap peternak, pemberian vaksin ternak dan unggas.
c. Kehutanan dan Perkebunan
Jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Bone antara lain : kelapa seluas 14.760 ha dengan produksi 11.675 ton, coklat seluas 37.178 ha dengan produksi 12.870 ton, cengkeh 3.106 ha dengan produksi 2.087 ton, jambu mente 6.242 ha dengan produksi 2.863, kopi 934 ha dengan produksi 247 to, tembakau 941 ha dengan produksi 863 ton.
Secara kuantitas produksi perkebunan memang telah mengalami peningkatan tapi belum mencapai hasil yang optimal, demikian pula halnya dengan kualitas produksi masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mencapai standar kualitas ekspor.
Sejalan pelaksanaan otonomi daerah dengan azas desentralisasi, paradigma pembangunan kehutanan di Kabupaten Bone adalah domestic resources based (community and resource based development), yaitu (1) menetapkan sumber daya hutan dalam tiga sisi manfaat yang seimbang yakni ekonomi, ekologi dan sosial; dan (2) memfasilitasi dan mendorong terciptanya pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan memberi peluang yang luas kepada lembaga usaha masyarakat kecil dan menengah yang berbasis hutan dalam menuju pengelolaan hutan yang lestari, demokratis dan berkeadilan. Pembangunan usaha perkebunan rakyat dilakukan dengan cara memfasilitasi dan mendorong berkembangnya agribisnis perkebunan yang berdayasaing melalui pemberdayaan masyarakat.
d. Perikanan dan kelautan
Sumber daya perikanan di Kabupaten Bone cukup besar karena wilayah pesisir yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 127 km, sangat potensial untuk pengembangan tambak dan rumput laut. Potensi luas areal pemeliharaan 17.214 ha dan 11.001 ha diantaranya telah dikelola yaitu tambak seluas 10.790 ha dan kolam 211 ha. Komoditi ekspor perikanan yang menjadi unggulan adalah kepiting dan udang, namun beberapa tahun terakhir mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan hingga mencapai 42 %, penyebab menurunnya produksi yaitu pemanfaatan sumber daya ikan tidak rasional, penerapan teknik produksi belum maksimal, kegiatan produksi dilakukan dalam skala kecil dan sifatnya perorangan, selain itu pembinaan dari petugas kurang. Produksi perikanan laut mengalami peningkatan rata- rata sebesar 16,8 %, jenis komoditi seperti rumput laut, ikan tuna, ikan kerapu, lobster, kepiting rajungan, merupakan komoditi ekspor yang sangat menjanjikan karena pangsa pasarnya masih cukup bagus.
e. Pariwisata
Keindahan alam dan kekayaan budaya Kabupaten Bone merupakan potensi pariwisata yang pengembangannya diarahkan pada upaya menyiapkan Kab.Bone sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu Objek wisata yang telah dikembangkan yaitu Tanjung Palette, dengan adanya objek wisata tersebut diharapkan arus kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bone mengalami pertumbuhan yang cukup bagus dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung.
Langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi yang ada terus dilakukan melalui pembinaan usaha jasa pariwisata, peningkatan SDM pelaku pariwisata dan promosi pariwisata dengan harapan Kabupaten Bone akan lebih siap sebagai daerah tujuan wisata.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah perkembangan ekonomi sering dicampurbaurkan dengan pertumbuhan ekonomi, dan pemakaiannnya selalu berganti-ganti, sehingga kelihatan pengertian antara keduanya dianggap sama. Akan tetapi beberapa ahli ekonomi, seperti Schumpeter (1911) dan Ursula Hicks (1957) telah menarik perbedaan yang lazim antara istilah perkembangan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi (jhingan, 1993). Menurut kedua pakar tersebut perkembangan ekonomi mengacu kepada masalah-masalah Negara terbelakang, sedangkan pertumbuhan ekonomi mengacu kepada masalah-masalah Negara maju. Demikian juga menurut Maddison (1970), ia mengatakan bahwa di Negara-negara maju kenaikan dalam tingkat pendapatan biasanya disebut pertumbuhan ekonomi, sedang di Negara miskin ia disebut perkembangan ekonomi. Namun ada juga pakar ekonomi lainnya yang beranggapan bahwa antara pertumbuhan ekonomi dengan perkembangan ekonomi merupakan sinonim, misalnya pendapat dari Arthur Lewis (1954), serta Meir dan Baldwin (1973)
B. Saran
Saya selaku penulis menyarankan bahwa setelah membaca makalah ini diharapkan agar pembaca dapat mengetahui dan memahami masalah perkembangan ekonomi yang dihadapi kabupaten Bone.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar